Photobucket

Monday, October 18, 2010

Tarbiyah Ruhiyyah

RUHIYAH SEORANG DA’I
Iman, ikhlas, sabar, dan optimisme adalah sifat-sifat fundamental dalam mencetak jiwa seorang da’i.

Jalan Memperoleh Ketinggian Ruhiyah

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu ‘furqan’ dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar”. (Al-Anfal: 29)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu bisa berjalan dan dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ( Al-Hadid: 28)

Jadi, TAKWA kepada Allah adalah modal kekayaan inspirasi, sumber cahaya dan karunia yang melimpah.

Sayyid Qutb Rahimallah berkata, “Inilah bekal tersebut dan persiapan perjalanan…bekal ketakwaan yang selalu menggugah hati dan membuatnya selalu terjaga, waspada, hati-hati, serta selalu dalam konsentrasi penuh…bekal cahaya yang menerangi liku-liku perjalanan sepanjang mata memandang. Orang bertakwa tidak akan tertipu oleh bayangan semu yang menghalangi pandangannya yang jelas dan benar…itulah bekal penghapus segala kesalahan, bekal yang menjanjikan kedamaian dan ketentraman, bekal yang membawa harapan atau karunia Allah; disaat bekal-bekal lain sudah sirna dan semua amal tak lagi berguna…

Hawa nafsulah yang menebar kesuraman, menghalangi penglihatan, dan mengaburkan arah tujuan… Hawa nafsu tidak bisa disingkirkan dengan dalil-dalil. Dia hanya bisa disingkirkan dengan TAKWA. Dia hanya bisa dienyahkan dengan rasa TAKUT kepada Allah dan terus menerus muraqobah terhadap-Nya baik dalam keadaan sunyi atau terang-terangan…

Hakikat Takwa

Takwa berdasarkan definisi Umar bin Khattab dan Ubai bin Ka’ab: suatu ketika Umar bin Khattab bertanya kepada Ubai bin Ka’ab tentang takwa. Ubai menjawab, “Bukankah anda pernah melewati jalan yang penuh dengan duri?”. “Ya”, jawab Umar. “Apa yang Anda lakukan saat ini?”. “Saya bersiap-siap dan berjalan dengan hati-hati”. “Itulah takwa”.

Sedang berdasarkan definisi Sayyid Qutb dalam bukunya Fi Zhilalil Qur’an: “Itulah takwa, kepekaan batin, kelembutan perasaan, rasa takut terus menerus, selalu waspada dan hati-hati jangan sampai kena duri jalanan…jalan kehidupan yang selalu ditaburi duri-duri godaan dah syahwat, kerakusan dan angan-angan, kekhawatiran dan keraguan, harapan semu atas segala sesuatu yang tidak bisa diharapkan. Ketakutan palsu dari sesuatu yang tidak pantas untuk ditakuti…dan masih banyak duri-duri yang lainnya”.

Jalan Mencapai Sifat Takwa

1. Mu’ahadah (Mengingat Perjanjian)
Landasan: “Dan tepatilah perjanjian dengan Alah apabila kamu berjanji…”.
(An-Nahl: 91)

Cara Mu’ahadah
Berkhalwat (menyendiri) antara dia dan Allah untuk mengintrospeksi diri seraya mengatakan, "IYYAAKA NA'BUDU WA IYYAAKA NASTA'IIN" yang artinya “Hanya kepada Engkau kami beribadah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan”. (Al-Fatihah: 5). Dan selalu ingat perjanjian ini pada waktu sholat. Apabila kita komitmen terhadap janji ini, maka kita telah meniti tangga menuju takwa.

2.Muroqobah (Merasakan Kesertaan Allah)
Landasan: “Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk shalat) dan melihat pula perubahan gerak badannya diantara orang-orang yang sujud”. (Asy-Syu’ara: 218-219)

Makna dan Cara Muroqobah
Makna: Merasakan keagungan Allah Azza wa jalla di setiap waktu dan keadaan serta merasakan kebersamaan-Nya di kala sepi ataupun ramai.
Cara: Niat ikhlas karena mencari ridho Allah.

Macam-macam Muroqobah
Muroqobah dalam melaksanakan ketaatan adalah dengan ikhlas kepda-Nya
Muroqobah dalam kemaksiatan adalah dengan taubat
Muroqobah dalam hal-hal yang mubah adalah dengan menjaga adab-adab terhadap Allah dan bersyukur atas segala nikmat
Muroqobah dalam musibah adalah dengan ridha kepada ketentuan Allah

3. Muhasabah (Introspeksi Diri)
Landasan: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Al-Hasyr: 18)
Seorang mukmin hendaknya mewajibkan diri dan meminta perjanjian untuk memperbaiki niat, melaksanakan taat, memenuhi segala kewajiban, dan membebaskan diri dari riya…demikian pula di sore hari, semestinya ia punya waktu untuk berkhalwat dengan dirinya guna memperHITUNGgkan semua yang telah dilakukannya.

"HISABLAH DIRIMU SEBELUM ENGKAU DIHISAB"

4. Mu’aqobah (Pemberian Sanksi)
Landasan: “Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, wahai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa”. (Al-Baqarah: 179)

Pemberian sanksi yang mubah di sini sangat penting sebab membiarkan diri dalam kesalahan akan mempermudah terlanggarnya kesalahan-kesalahan yang lain dan akan semakin sulit untuk meninggalkannya.
Contoh: Suatu ketika Umar bin Khathab pernah disibukkan dengan suatu urusan sehingga waktu Maghrib lewat sampai muncul dua bintang. Maka setelah melaksanakan shalat Maghrib beliau memerdekakan dua orang budak.

5. Mujahadah (Optimalisasi)
Landasan: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. (Al-Ankabut: 69)

Makna Mujahadah: Apabila seorang mukmin terseret dalam kemalasan, santai, cinta dunia dan tidak lagi melaksanakan amal-amal sunnah serta ketaatan yang lainnya tepat pada waktunya, maka ia harus memaksa dirinya melakukan amal-amal sunnah lebih banyak dari sebelumnya.

Contoh: Umar bin Khattab pernah ketinggalan shalat jamaah lalu malam harinya beliau isi dengan ibadah dan tidak tidur. Amr bin Abdi Qois selalu shalat seribu rakaat setiap harinya. Masruq ketika melaksanakan ibadah haji tidak pernah tidur kecuali sambil sujud.


B. FAKTOR – FAKTOR YANG MENUMBUH SUBURKAN RUHIYAH

a) Faktor – Faktor Yang Berkaitan Dengan Kepekaan Jiwa
Senantiasa melakukan muroqobah kepada Allah
Mengingat kematian dan kehidupan sesudahnya
Membayangkan kehidupan akhirat beserta seluruh peristiwanya (Semua manusia dikumpulkan dengan telanjang bulat dan tanpa alas kaki, Matahari sangat dekat di atas kepala, Bumi menjadi saksi atas apa yang kita lakukan di dunia, Anggota badan menjadi saksi, Neraka yang sangat gelap dan pekat, Lembah-lembah jahannam, Minuman dan makanan ahli neraka, Tangisan ahli neraka, de el el)

b) Faktor – Faktor Amaliyah Yang Menumbuhkan Ruhiyah
Memperbanyak tilawah Al-Qur’an dengan tadabbur
Hidup bersama Rasulullah melalui sirahnya yang harum semerbak
- Mencontoh ibadah nabi: beliau beribadah sepanjang malam, hanya sedikit beliau sisakan untuk istirahat. Bahkan bertahajjud malam hari sampai tumitnya bengkak.
- Mencontoh kezuhudan nabi: Beliau tidak pernah makan roti sampai kenyang dalam tempo tiga hari berturut-turut.
- Mencontoh ketakwaan nabi: Beliau duduk tanpa alas, makan bersama pembantunya, menjahit sendiri pakaiannya, membantu pekerjaan istrinya.
- Mencontoh kesabaran dan kelembutan nabi
- Mencontoh keteguhan nabi dalam mempertahankan prinsip
- Mencontoh kekuatan fisiknya: Beliau mampu meladeni tantangan Ubai bin Kholaf di perang Uhud
- Mencontoh keberania nabi

c) Selalu Menyertai Orang – Orang Pilihan, Yakni Mereka Yang Berhati Bersih dan Mengenal Allah
Ciri-ciri orang pilihan yang mengenal Allah:
- Komitmen dengan syariat Islam
- Tidak tampak adanya kemaksiatan dalam diri mereka
- Menyibukkan diri dengan kelemahan dan aib sendiri
- Amar ma’ruf nahi munkar
- Di wajah mereka tampak adanya cahaya keimanan dan takwa
- Memperhatikan umat Islam
- Bergerak secara jujur

d) Dzikir Kepada Allah di Setiap Waktu dan Keadaan
Yang dimaksud dengan dzikir adalah merasakan keagungan Allah dalam semua kondisi. Bisa berupa dzikir pikiran, hati, lisan, atau perbuatan. Dzikir perbuatan mencakup tilawah, ibadah, dan keilmuwan. Termasuk dzikir lisan adalah semua doa dan ma’tsurat yang diriwayatkan secara shahih dari nabi.

e) Menangis Karena Takut Kepada Allah di Saat Berkhalwat (Menyendiri)
Keutamaan:
- Mereka berada di bawah naungan Allah di hari kiamat
- Mereka terbebas dari azab Allah
- Mereka berada dalam limpahan cinta kasih ilahi
- Mereka berada dalam ampunan dan maghfirahnya

f) Bersungguh – Sungguh Membekali Diri Dengan Ibadah – Ibadah Nafilah (Sunah)
Shalat Nafilah (Shalat Dhuha, Shalat Awwaabain: shalat sunnah enam rakaat setelah shalat maghrib, Shalat Sunnah Tahiyatul Masjid, Shalat Sunnah Wudlu’, Shalat Malam, Shalat Tarawih)
Shaum Nafilah (Puasa Arafah, Puasa Asyuro dan Tasu’a, Shaum enam hari pada bulan syawal, Shaum tiga hari bidh (putih), Shaum hari Senin dan Kamis, Shaum sehari dan buka sehari)
Shadaqah Nafilah
Ibadah Haji dan Umrah Nafilah

C. PENGARUH TARBIYAH RUHIYAH DALAM PEMBINAAN, PERBAIKAN DAN PEMBARUAN UMAT
Tatkala jiwa seorang da’i memancarkan rohani, berhubungan erat dengan Allah, dan memiliki ketakwaan tersingkaplah baginya berbagai hakikat dan makna. Terbukalah rahasia-rahasia yang tak dimengerti kecuali orang-orang yang jenius dan bertakwa.

Guru besar Muhammad Abu Zahroh Rahimallah berkata, “Tarbiyah ruhiyah sebagaimana dikatakan oleh ustadz Faudah akhir-akhir ini mempunyai berbagai keistimewaan. Dia mempunyai pengaruh yang sangat jelas. Misalnya kaum muslimin di Afrika, baik bagia barat, tengah atau bagian selatan. Keimanan yang mereka miliki merupakan hasil dari tarbiyah ruhiyah.

(Sumber: http://alymerenung.wordpress.com/2009/10/16/tarbiyah-ruhiyah/)- Buku Tarbiyah Ruhiyyah.

Wednesday, August 18, 2010

~pemimpin~

sedikit perkongsian tuk renungan bersama...

surat Hasan al-Basri kpd Umar Abdul Aziz.

Sebaik sahaja diangkat menjadi khalifah, Umar bin Abdul Azizi menulis sepucuk surat kepada Hasan Al- Basri, seorang ulamak yang berwibawa dan hebat ketika itu. dalam surat tersebut baginda meminta pandangan Hasan Al- Basri mengenai soal kepimpinan dan sifat2 seorg pemimpin. permintaan itu ditunaikan dgn beliau menulis sepucuk surat kepada Umar yang berbunyi;

" wahai Amirul Mukminin! sesungguhnya Allah telah menjadikan pemimpin yang adil itu sebagai penahan mana yang condong, tempat berlindung orang yang teraniaya, memperbaiki mana yang rosak, menjadi kekuatan bagi yang lemah, membela orang yang tertindas dan tempat mengadu bagi orang yang ditimpa malang.

pemimpin yang adil wahai Amirul Mukminin, adalah umpama pengembala yang penyayang mengembala unta yang menyayanginya, menghalaunya ke padang ragut yang subur, menjauhi ternakannya dari tebing yang curam, mengawasinya agar tidak dibaham oleh binatang buas, menjaganya supaya tidak mati kesejukan atau kepanasan.

pemimpin yang adil wahai Amirul Mukminin, adalah umpama seorang ayah yang mengawasi anak2nya. dia mengasuh mereka pada waktu kecil dan mendidik meraka ketika besar. selagi si ayah itu masih hidaup, maka segala usahanya adalah demi anak2. manakala setelah dia mati, segala harta peninggalannya adalah untuk mereka.

pemimpin yang adil wahai Amirul Mukminin, adalah umpama seorang ibu yang menyayangi anaknya. dia mengandungkan anak itu dengan penuh keperitan dan melahirkannya dengan penuh kesakitan. pada waktu kecil, anaknya dibelai dan diasuh sehingga matanya tidak lelap kerana menjaga anak itu. jika anaknya sihat dia bersa sukacita. jika anaknya mengadu sakit hatinya gelisah.

pemimpin yang adil wahai Amirul Mukminin, adalalah seperti seorang penjaga aank yatim yang menerima wasiat ayanhnya sebelum wafat. pemimpin yang adil umpama tempat menyimpan barang bagi yang miskin dan yatim. yang kecil diasuhnya dan yang besar diuruskan hal perbelanjaaanya.

pemimpin yang adil wahai Amirul Mukminin, adalah orang yang berdiri di batasan antara Allah dan hambanya. kalam Allah didengarnya, disampaikan kepada rakyat. wajah Allah yang dilihatnya dijelaskan kepada rakyatnya. dia berpegang pada tali Allah lalu dengan itu dia memimpin rakyatnya.

justeru itu wahai Amirul Mukminin, sepanjang tuanku memegang amanah Allah itu, janganlah bertindak seperti seorang khadam yang dipercayai oleh tuannya untuk menjaga harta beliau dan kaum kerabatnya, lalu dimusnahkan segala harta itu. akibatnya tuannya dilantar miskin bersama kaum kerabatnya kerana perbuatan itu.

selain itu, hendaklah tuanku ingat Amirul Mukminin akan kematian dan apa yang berlaku selepas kematian. ingatlah, ketika tuanku menghadapi kematian hanya sedikit yang menjadi pembantu dan tiada siapa yang akan menolong. oleh itu, persiapkanlah bekal untuk mati dan untuk apa yang akan berlaku selepas kematian.

ingatlah wahai Amirul Mukminin, alangkah dahsyatnya nanti ketika isi kubur dibongkar, segala isi dada dikeluarkan dan segala rahsia akan dibongkar, kita akan menyaksikan segala2nya dari sekecil2nya hingga sebesar2 semuanya akan tertulis.
oleh itu wahai Amirul Mukminin, sementara tuanku masih dapat berfikir secara tenang, insaflah sebelum ajal datang, sebelum terhenti segala impian.

Janganlah tuanku diperdaya oleh orang2 yang beroleh kemewahan dunia padahal kemewahan itu adalah di atas kesengsaraan tuanku sendiri. mereka menikmati makanan yang enak di dunia tetapi tuanku kehilangan nikmat di akhirat. usah dipandang dan dipercayai kekuatan nikmat kekuatan tuanku hari ini tetapi ingatlah adakah masih ada kekuatan dan kudrat tuanku nanti, padahal ketika itu tuanku telah terkurung dalam belenggu kematian, berdiri di hadapan Allah di dalam satu majlis yang dihadiri oelah para mealaikat dan roh para anbia' serta rasul. pada ketika itu semua kan sujud ke bumi lantaran hebatnya al-Haiyul Qaiyum, Yang hidup dan Yang Maha Berkuasa.

wahai Amirul Mukminin, meski pun nasihatku ini tidak sehebat orang yang terdahulu, namun kasihku terhadap tuanku tidak pernah surut. justeru itu terimalah surat dan nasihatku ini. Lihatlah ia umpama semangkuk ramuan ubat yang diberikan oleh seorang yang amat mengasihi sahabat yang sakit. walaupun ubat itu begitu pahit, namun dipaksa sehebat itu meminumnya kerana mengharapkan sahabatnya segera sembuh. wassalamualaikum. "

~buku Dialog Ulama Dengan Umarak

Friday, June 18, 2010

Bila Waktu Telah Berakhir

bagaimana kau merasa bangga
akan dunia yg sementara
bagaimanakah bila semua hilang dan pergi
meninggalkan dirimu

Bagaimanakah bila saatnya
waktu terhenti tak kau sadari
masihkah ada jalan bagimu untuk kembali
mengulangkan masa lalu

Dunia dipenuhi dengan hiasan
semua dan segala yg ada akan
kembali padaNya

Bila waktu telah memanggil
teman sejati hanyalah amal
bila waktu telah terhenti
teman sejati tinggallah sepi

~Opick

Permulaan Sebuah Kebahagiaan

Kebahagiaan itu bukan bermakna keseronokan dan kegembiraan dikelilingi perkara-perkara berbentuk material dan kebendaan, akan tetapi bahagia dengan diri ialah tenang dan bahagia yang lahir dari rasa ‘bertuhan’.

Inilah peraturan cinta Islami.

Bahagia atas setiap perintah Allah. Gembira dengan menjauhi semua larangan-Nya. Baik susah atau senang, tawa atau tangis hiba, ketenangan dan kebahagiaan itu sentiasa mengiringi kerana keyakinan dan kefahamannya bahawa dirinya ‘ada’ DIA Yang Maha Mengasihi, Maha Mendengar, Maha Melihat dan Maha segala-galanya untuk dia mengadu untung nasib diri.

Firman Allah SWT :

الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Maksudnya : “(Iaitu ) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingati Allah. Ingatlah hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenang.” ( Surah Ar Ra’du ayat 28 )

Inilah manfaat yang paling agung. Mentaati Allah SWT dengan melakukan segala suruhan dan meninggalkan segala larangan. Mengenali Pencipta yang setiap perbuatan-Nya amat berbeza dari makhluk yang ada. Memahami setiap kebaikan dan keburukan yang diberi-Nya adalah ujian keimanan. Menginsafi betapa hikmah yang tersurat dan tersirat dari segala yang berlaku dalam hidupnya adalah di dalam pengetahuan dan kehendak Tuhan. Semua ini menjadi pendorong dan motivasi untuk dia tampil tenang. Inilah ‘rasa’ kebahagiaan yang berkekalan.

as a conclusion, ketenangan dan kebahagiaan yang diperolehi adalah hasil dari ingatan yang berterusan kepada Allah ar Rahman.

Dua perkara ingatan bersama : 1) Bahagiakan diri sendiri dan 2) Berkongsilah rasa bahagia itu.

InsyaAllah, kebahagiaan dan ketenangan akan sentiasa memayungi, kerana bahagia sebenar adalah dari ‘jiwa kehambaan’ yang sejati. moga memperoleh kebahagiaan hakikiMU ya Rabb..

Petunjuk Sepanjang Jalan

SAUDARA!
Seandainya kau tangisi kematianku,
dan kau siram pusara ku dengan air matamu,
maka di atas tulang-tulang ku
yang hancur luluh,
nyalakan lah obor buat ummat ini
dan........
teruskan perjalanan ke gerbang jaya

SAUDARA!
Kematianku adalah suatu perjalanan
mendapatkan Kekasih yang sedang merindu
taman-taman di syurga Tuhan ku bangga menerimaku
burung-burungNya berkicau riang menyambutku
bahagialah hidupku di alam abadi

SAUDARA!
Puaka kegelapan pasti akan hancur
dan alam ini akan disinari fajar lagi
biarlah rohku terbang mendapatkan rinduNYA

Jangan gentar berkelana di alam abadi
Nun di sana fajar sedang memancar......

(Ditulis beberapa ketika sebelum menemui SYAHID)

sumber:
معالم في الطريق
~PETUNJUK SEPANJANG JALAN~

Tanda2 Menghampiri Kematian

Imam Ghazali rahimahullah diriwayatkan memperolehi
tanda-tanda ini sehinggakan beliau mampu menyediakan
dirinya untuk menghadapi sakaratulmaut secara
sendirian. Beliau menyediakan dirinya dengan segala
persiapan termasuk mandinya, wuduknya serta kafannya
sekali cuma ketika sampai bahagian tubuh dan kepala
sahaja beliau telah memanggil abangnya iaitu Imam
Ahmad Ibnu Hambal untuk menyambung tugas tersebut.
Beliau wafat ketika Imam Ahmad bersedia untuk
mengkafankan bahagian mukanya. Adapun riwayat -riwayat
ini memperlihatkan kepada kita sesungguhnya Allah SWT
tidak pernah berlaku zalim kepada hambanya.
Tanda-tanda yang diberikan adalah untuk menjadikan
kita umat Islam supaya dapat bertaubat dan bersedia
dalam perjalanan menghadap Allah SWT.
Walaubagaimanapun semua tanda-tanda ini akan berlaku
kepada orang-orang Islam sahaja manakala orang-orang
kafir iaitu orang yang menyekutukan Allah nyawa mereka
ini akan terus di rentap tanpa sebarang peringatan
sesuai dengan kekufuran mereka kepada Allah SWT.

Adapun tanda-tanda ini terbahagi kepada beberapa
keadaan :

Tanda 100 hari sebelum hari mati.

Ini adalah tanda pertama dari Allah SWT kepada
hambanya dan hanya akan disedari oleh mereka-mereka
yang dikehendakinya. Walaubagaimanapun semua orang
Islam akan mendapat tanda ini cuma samada mereka sedar
atau tidak sahaja. Tanda ini akan berlaku lazimnya
selepas waktu Asar. Seluruh tubuh iaitu dari hujung
rambut sehingga ke hujung kaki akan mengalami getaran
atau seakan-akan mengigil. Contohnya seperti daging
lembu yang baru disembelih dimana jika diperhatikan
dengan teliti kita akan mendapati daging tersebut
seakan-akan bergetar. Tanda ini rasanya lazat dan bagi
mereka sedar dan berdetik di hati bahawa mungkin ini
adalah tanda mati maka getaran ini akan berhenti dan
hilang setelah kita sedar akan kehadiran tanda ini.
Bagi mereka yang tidak diberi kesedaran atau mereka
yang hanyut dengan kenikmatan tanpa memikirkan soal
kematian , tanda ini akan lenyap begitu sahaja tanpa
sebarang munafaat. Bagi yang sedar dengan kehadiran
tanda ini maka ini adalah peluang terbaik untuk
memunafaatkan masa yang ada untuk mempersiapkan diri
dengan amalan dan urusan yang akan dibawa atau
ditinggalkan sesudah mati.

Tanda 40 hari sebelum hari mati

Tanda ini juga akan berlaku sesudah waktu Asar.
Bahagian pusat kita akan berdenyut-denyut. Pada ketika
ini daun yang tertulis nama kita akan gugur dari pokok
yang letaknya di atas Arash Allah SWT. Maka
malaikatmaut akan mengambil daun tersebut dan mula
membuat persediaannya ke atas kita antaranya ialah ia
akan mula mengikuti kita sepanjang masa. Akan terjadi
malaikatmaut ini akan memperlihatkan wajahnya sekilas
lalu dan jika ini terjadi, mereka yang terpilih ini
akan merasakan seakan-akan bingung seketika. Adapun
malaikatmaut ini wujudnya cuma seorang tetapi kuasanya
untuk mencabut nyawa adalah bersamaan dengan jumlah
nyawa yang akan dicabutnya.

Tanda 7 hari

Adapun tanda ini akan diberikan hanya kepada mereka
yang diuji dengan musibah kesakitan di mana orang
sakit yang tidak makan secara tiba-tiba ianya
berselera untuk makan.

Tanda 3 hari

Pada ketika ini akan terasa denyutan di bahagian
tengah dahi kita iaitu diantara dahi kanan dan kiri.
Jika tanda ini dapat dikesan maka berpuasalah kita
selepas itu supaya perut kita tidak mengandungi banyak
najis dan ini akan memudahkan urusan orang yang akan
memandikan kita nanti. Ketika ini juga mata hitam kita
tidak akan bersinar lagi dan bagi orang yang sakit
hidungnya akan perlahan-lahan jatuh dan ini dapat
dikesan jika kita melihatnya dari bahagian sisi.
Telinganya akan layu dimana bahagian hujungnya akan
beransur-ansur masuk ke dalam. Telapak kakinya yang
terlunjur akan perlahan-lahan jatuh ke depan dan sukar
ditegakkan.

Tanda 1 hari

Akan berlaku sesudah waktu Asar di mana kita akan
merasakan satu denyutan di sebelah belakang iaitu di
kawasan ubun-ubun di mana ini menandakan kita tidak
akan sempat untuk menemui waktu Asar keesokan harinya.

Tanda akhir

Akan berlaku keadaan di mana kita akan merasakan satu
keadaan sejuk di bahagian pusat dan ianya akan turun
ke pinggang dan seterusnya akan naik ke bahagian
halkum. Ketika ini hendaklah kita terus mengucap
kalimah syahadah dan berdiam diri dan menantikan
kedatangan malaikat maut untuk menjemput kita kembali
kepada Allah SWT yang telah menghidupkan kita dan
sekarang akan mematikan pula.

Friday, March 5, 2010

Kebimbangan

Sebelum mata ini terlena
Sebelum jasad ini rebah
Sebelum jiwa ini melayang,
Hatiku bimbang, bimbang, dan terus bimbang,
Kebimbangan ini, membuatkan diriku takut.
Takut untuk memejamkan mata.

Andaikata hari ini adalah hari terakhirku,
Hatiku bimbang bila mengenangkan dosaku padaMU,
Hati yang masih kotor, jiwa yang tersangat lemah,
Hatiku bimbang, memikirkan dosaku dengan makhlukMU yang lain..
Sedangkan aku, masih belum memohon ampun dari mereka…

Kebimbangan ini…
Membuatkan diriku tertanya,
Adakah masih ada peluang untukku bernafas esok hari?
Andaikata Engkau memberi peluang untukku hidup
Diriku masih bimbang…
Kerana ku bimbang,
Adakah peluang itu akan ku manfaatkan sebaik mungkin?
Adakah peluang itu akan memberi ruang untukku bertahajud padaMu
Adakah peluang itu akan memilihku menjadi tetamu di RumahMU.

Namun, apapun, KU MOHON..
Andaikata peluang itu masih terbuka,
Maka terimalah taubatku…
Lembutkanlah hati2 makhlukMu untuk memaafkan diriku
Bagilah kesempatan untukku bertahajud padaMU
Pilihlah aku menjadi tetamuMU di kala subuh hari.
Berilah padaku kekuatan untuk bermujahadah.
HANYA PADAMU KU KEMBALI.
KU BERSERAH SEGALANYA…